Catatan Sederhana: Mindfulness, Self-Care dan Jalan Penyembuhan

Sebuah Catatan Kecil di Pagi yang Tenang

Pagi ini saya menulis sambil menyeruput kopi yang agak pahit—sengaja tidak pakai gula karena ingin merasakan tekstur aslinya. Ada suara kucing tetangga lewat di bawah jendela, lalu berhenti, lalu menghilang. Detik-detik kecil seperti itu mengingatkan saya bahwa mindfulness bukan soal meditasi panjang yang memaksakan diri, tapi tentang hadir pada hal-hal paling sederhana. Napas masuk. Napas keluar. Ada hidup di antara keduanya.

Mindfulness: Bukan Pelarian, tapi Hadir

Saya belajar mindfulness bukan dari buku teori yang tebal, melainkan dari momen ketika saya merasa kewalahan. Saat itu saya mencoba duduk diam lima menit. Lima menit pertama terasa seperti lima abad; kepala penuh daftar pekerjaan, notifikasi, dan rasa bersalah. Lalu saya fokus pada sensasi kursi yang menekan punggung saya. Lalu suara hujan jauh di luar. Lalu rasa panas dari cangkir kopi di tangan. Perlahan, ritme itu menenangkan. Mindfulness bagi saya adalah mengizinkan apa yang ada—tanpa menolak, tanpa menambah drama. Simpel, namun tidak mudah.

Self-Care Itu Pragmatik dan Kadang Norak

Kalau kata orang, self-care itu harus mahal: spa, retreat, atau skincare rutinitas yang rumit. Saya sering ketawa sendiri karena self-care saya bisa berupa mandi lama dengan sabun murah atau menonton episode lama favorit sampai tertawa. Kadang saya suka menulis surat—bukan untuk dikirim—melainkan untuk mencatat hal-hal yang membuat saya lega. Self-care bukan soal estetika; ia soal kebutuhan. Saya butuh tidur cukup, makanan yang tidak membuat saya menyesal, dan teman yang bisa menerima saya tanpa syarat. Itu semua sederhana, dan terasa mewah di saat suasana hati sedang rapuh.

Healing: Proses yang Berantakan dan Tidak Linear

Pernah saya bayangkan penyembuhan itu seperti panah yang melesat ke titik tertentu—sampai akhirnya sadar bahwa penyembuhan lebih mirip jahitan yang harus dirapikan berkali-kali. Ada hari-hari saya merasa maju, lalu mundur, lalu ketawa di tengah hujan. Ada ritual kecil yang membantu: menulis tiga hal yang saya syukuri, berjalan tanpa tujuan sekitar 20 menit, atau mematikan ponsel selama makan malam. Hal-hal itu mungkin klise, tapi bekerja. Saya juga pernah mencoba terapi; itu membuka pintu-pintu yang selama ini saya tutup rapat. Terapi membuat saya mengerti bahwa luka lama tidak harus menentukan hidup saya selamanya.

Spiritual Development: Jalan yang Lembut

Di sisi spiritual, saya bukan orang yang religius kaku, melainkan pencari yang lamban. Spiritual bagi saya lebih kepada hubungan dengan sesuatu yang lebih besar—alam, musik, atau momen-momen ketika saya merasakan keterhubungan mendalam dengan orang lain. Kadang saya ikut kelas meditasi online, kadang cuma duduk mengamati daun yang bergoyang. Saya menemukan sumber inspirasi dari beragam tempat, termasuk blog dan tulisan-tulisan personal yang membagikan pengalaman nyata. Salah satunya adalah artikel yang saya temukan di marisolvillate yang membahas kepedulian pada diri sendiri dengan cara yang hangat dan praktis. Itu memberi saya ide-ide kecil yang bisa dilakukan sehari-hari, bukan sekadar jargon indah.

Ritual Kecil yang Bekerja untuk Saya

Bukan rahasia lagi, saya punya daftar ritual yang simpel: menuliskan tiga hal yang berhasil setiap hari, melakukan napas 4-4-4 sebelum tidur, dan memberi waktu 15 menit untuk tidak melakukan apa-apa di sore hari—hanya duduk dan mengamati. Ritual ini tidak selalu menyelamatkan hari saya, tapi sering kali menahan badai kecil agar tidak berubah menjadi tsunami. Saya percaya konsistensi kecil lebih berharga daripada upaya dramatis yang sekali-sekali saja.

Pesan untuk Teman yang Membaca

Jika kamu sedang lelah, ijinkan diri untuk istirahat tanpa rasa bersalah. Healing bukan perlombaan. Ingat juga bahwa self-care tidak selalu terlihat rapi atau fotograferable di Instagram. Kadang itu hanya tidur siang yang cukup, atau mematikan ponsel selama makan. Practice mindfulness dengan kelembutan. Jangan memaksa diri menjadi ‘sempurna’—kita manusia, bukan mesin. Dan kalau butuh bacaan yang hangat, seringkali tulisan personal dari orang lain bisa jadi teman di perjalanan. Ambil langkah kecil hari ini. Mungkin hanya satu napas panjang. Itu sudah cukup sebagai awal.

Leave a Reply