Mencari Tenang: Catatan Singkat dari Si Pencari Damai
Aku pernah membayangkan hidup yang tenang itu seperti kafe kecil di pojokan—ada lampu temaram, playlist jazz, dan aroma kopi yang menenangkan. Kenyataannya, tenang itu bukan tempat, melainkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang aku pilih setiap hari. Artikel ini bukan panduan suci, cuma secangkir curhat tentang mindfulness, self-care, dan proses penyembuhan jiwa yang lagi aku jalanin. Siap? Tarik napas dulu, jangan buru-buru scroll.
Ngopi dan napas: ritual pagi (bukan cuma buat Instagram)
Pagi-pagi aku belajar satu trik sederhana: sebelum membuka notifikasi, aku duduk lima menit. Cuma duduk. Enggak scroll, enggak balas chat. Napas masuk, napas keluar. Gampang diomongin, susah dilakuin? Iya banget. Tapi setelah beberapa hari, otak yang biasa panik tiap ada bunyi notifikasi jadi agak nurut. Mindfulness di sini sederhana: hadir pada apa yang terjadi sekarang, bukan replay dramanya semalam.
Aku juga kasih waktu buat ngopi santai, bukan sambil kerja. Detik-detik itu adalah bentuk self-care murah meriah, kayak bilang ke diri sendiri, “Hei, kamu penting juga, lho.” Self-care enggak selalu soal spa mahal atau vitamin mahal—kadang cuma ngasih ruang buat bernafas tanpa tuntutan produktivitas. Itu aja bikin mood naik 20% (angka ngasal, tapi rasanya nyata).
Penyembuhan itu nggak linear. Spoiler: bakalan muter-muter dulu
Pernah denger pepatah “healing takes time”? Iya, bener. Tapi aku ngerasa penting juga bilang: healing itu nggak jalan lurus. Kadang merasa aman, eh besok nangis lagi. Kadang move on sekilas, trus ketemu lagu atau aroma yang narik balik ke memori lama. Jangan kaget, itu wajar. Kita bukan robot yang bisa reset. Kita manusia dengan lapisan perasaan yang butuh waktu buat beresin satu per satu.
Salah satu cara aku menghadapi itu adalah dengan menulis. Menulis gak harus puitis; bisa list acak, kata-kata marah, atau cerita receh. Menulis bikin emosi nggak numpuk di dada. Setelah dicurahkan, kadang terasa itu ringan, atau paling enggak, nggak sebesar sebelumnya. Ini semacam ritual kecil yang jadi bagian dari proses penyembuhan.
Latihan kecil, perubahan besar
Di luar meditasi klasik, aku coba latihan-latihan micro-mindfulness: makan pelan tanpa nonton, jalan tanpa headphone, atau mencuci piring sambil fokus ke air dan gelembungnya. Sounds silly? Mungkin. Tapi otak itu suka kebiasaan; kalau kita latih hadir sedikit-sedikit, lama-lama jadi kebiasaan baru yang menenangkan.
Self-care juga berarti menetapkan batas. Belajar bilang “tidak” itu kayanya salah satu skill spiritual paling underrated. Katakan tidak tanpa drama, dan lihat betapa energi kita tersimpan untuk hal yang benar-benar penting. Ada kalanya self-care berarti tidur lebih awal; ada kalanya berarti bilang, “Aku nggak bisa nemenin drama kamu sekarang.” Santai, bukan kejam.
Spiritual tapi gaul: tentang hubungan dengan sesuatu yang lebih besar
Spiritualitas bukan cuma soal agama formal; buat aku itu hubungan dengan sesuatu yang lebih besar—bisa Tuhan, alam, atau bahkan rasa syukur atas kopi hangat di pagi hari. Kadang aku cuma keluar, lihat langit, dan bilang terima kasih. Nggak perlu serem-serem, cukup jujur. Koneksi itu yang bikin hati hangat saat hidup lagi ribet.
Yang lucu, kadang proses ini juga melibatkan sumber-sumber inspirasi yang nyeleneh: podcast favorit, akun Instagram yang isinya motivasi receh, atau blog personal yang isinya curhatan jujur. Salah satu tempat yang aku suka untuk bacaan ringan dan refleksi adalah marisolvillate. Enggak semua harus sakral; yang penting nyambung di hati.
Praktik kecil untuk dilakuin sekarang
Oke, kalau kamu mau coba, ini beberapa langkah gampang yang bisa kamu mulai sekarang juga: tarik napas 4-4-4 (empat hitung in, tahan, keluar), tulis 3 hal yang bikin kamu bersyukur, matikan notifikasi selama 30 menit, atau jalan kaki 10 menit tanpa tujuan. Cukup konsisten sedikit, lihat hasilnya pelan-pelan.
Di akhirnya, mencari tenang itu perjalanan kecil-kecil yang tiap hari diulang. Ada hari yang sukses, ada yang failed spectacularly. Yang penting: jangan berhenti lagi mencoba. Kita semua manusia pakai perasaan. Terus beri diri sendiri ruang untuk sembuh—dengan sabar, humor, dan secangkir kopi yang selalu ada di meja.