Cerita kecil: Ketika hening mendatangi aku
Pernah nggak kamu sengaja duduk diam, lalu tiba-tiba menyadari betapa berisiknya pikiran sendiri? Itu aku kemarin sore. Duduk dengan secangkir teh, ponsel dimatikan, dan pada detik ke-30 langsung muncul daftar belanja, drama kerja, sampai pertanyaan eksistensial tentang tujuan hidup. Lucunya, hening itu nggak langsung manis — dia nyenggol banyak memori. Tapi setelah beberapa kali napas panjang, ada semacam ruang kecil yang terbuka. Ruang itu ternyata penting. Jadi begini cerita tentang bagaimana mindfulness, self-care, dan healing spiritual bercampur jadi sesuatu yang… agak manis dan berantakan.
Mindfulness itu sederhana, bukan sulap
Awal-awal aku kira mindfulness harus pakai baju putih, duduk bersila tanpa bergerak selama 40 menit sambil mengeluarkan aura zen. Nyatanya nggak gitu. Mindfulness lebih ke latihan buat hadir di momen, nggak kabur ke masa lalu atau masa depan. Contohnya sederhana: ketika makan, nikmati rasa, tekstur, dan suara sendok yang tertabrak mangkuk (dramatis, iya). Atau ketika sedang berjalan, rasakan tanah di bawah kaki—bukan sambil scroll feed orang-orang yang lagi liburan.
Ada hari aku latihan selama 10 menit di taman, sambil ngamatin burung yang kayaknya juga lagi mikir—eh atau cuman lagi nyari remah roti. Pernah juga aku ketawa sendiri karena sadar sedang memikirkan email, padahal tangan lagi memegang es krim. Itulah mindfulness: kembali ke sekarang, sambil tetap bisa menikmati absurditas kehidupan.
Self-care: bukan cuma spa dan masker wajah
Kalau di Instagram self-care seringnya glamor—white robe, bath bomb, lighting estetik. Di kehidupan nyata, self-care seringkali lebih kasual: tidur cukup, bilang “nggak” tanpa drama, dan mencegah diri jadi monster karena kerja lembur. Pernah suatu minggu aku memutuskan bikin aturan sederhana: nggak cek email setelah jam 8 malam. Rasanya seperti memenangkan medali emas. Kepada teman yang skeptis, serius, batasan itu bentuk self-love yang underrated.
Ini juga tentang merawat hubungan dengan diri sendiri. Aku menulis jurnal kecil, kadang ambil sticky notes dan nempel di cermin: “Kamu sudah cukup hari ini.” Receh, tapi works. Dan kalau lagi benar-benar meleleh, aku izinkan diri untuk melakukan ritual kecil: mendengarkan lagu yang bikin galau sambil makan mie instan — healing dalam bentuk paling manusiawi.
Ritual spiritual: bukan musti ritual formal
Penyembuhan spiritual buatku lebih ke mengembalikan koneksi—dengan alam, dengan orang yang kita sayangi, atau dengan bagian diri yang sering kita abaikan. Ada yang melakukan meditasi panjang, ada yang menyalakan lilin sambil berdoa, ada juga yang menyanyikan lagu-lagu lama sambil menangis. Semua valid. Aku sendiri suka ritual kecil: berjalan sendirian di pagi hari, merasakan embun, mengucapkan terima kasih atas napas. Nggak perlu sakral-sakral amat, yang penting ada niat untuk menyimak dan menyembuhkan.
Kadang aku juga ikut workshop spiritual online (iya, zaman now semua bisa jadi webinar). Di situ aku ketemu orang-orang dengan cerita berat dan pelan-pelan belajar bahwa penyembuhan itu proses, bukan sprint. Jangan terkejut kalau nanti kamu menangis di tengah diskusi dan langsung dapat pelukan virtual — itu real juga kok.
Praktik harianku (yang kadang berhasil, kadang wagu)
Rutinku sederhana: bangun, taruh tangan di dada, bilang “terima kasih” untuk satu hal kecil, minum air, lalu jalan sekitar 15 menit. Kalau mood baik, aku akan menulis tiga hal yang aku syukuri. Kalau mood nggak baik, aku tetap jalan—kadang nyanyi fals supaya tetangga juga terhibur. Di tengah minggu aku sisihkan waktu buat detox digital: notifikasi dimatikan, chat dipindah ke mode snooze. Ini membantu banget menurunkan kecemasan yang datang dari kebiasaan membandingkan diri dengan highlight reel orang lain.
Selain itu, aku juga rajin periksa batasan: bilang “gak bisa” tanpa rasa bersalah, minta bantuan kalau perlu, dan menerima bahwa recovery nggak linier. Ada hari super produktif, ada hari napo nonton film sampai terlelap. Semua bagian dari proses.
Kalau kamu tanya, kenapa berbagi ini?
Karena seringkali kita merasa sendirian ketika mencoba tenang. Padahal banyak orang juga lagi berantakan di balik senyum. Kalau kamu penasaran mau mulai pelan-pelan, coba praktik kecil dulu. Buka marisolvillate mungkin bisa jadi inspirasi—atau cukup catat latihan pernapasan di ponselmu. Intinya, berikan waktu untuk hening. Di baliknya ada ruang untuk menyembuhkan, untuk tertawa (kadang di momen paling absurd), dan untuk menemukan kembali siapa kita.
Penutupnya, mindfulness dan self-care itu bukan tujuan akhir, tapi teman perjalanan. Kadang mereka ngebet, kadang mereka ogah-ogan. Yang penting, kita tetap jalan pelan, sambil sesekali tertawa melihat betapa ribetnya jadi manusia. Semoga hening yang kamu temukan membawa sedikit kelegaan hari ini.