Beberapa malam yang lalu aku duduk di tepi balkon, selimut tipis di pangkuan, memegang secangkir teh yang sudah dingin. Suara kota samar. Ada rasa kosong yang aneh tetapi juga ringan—seolah ada ruang baru di dalam yang menunggu untuk diisi dengan sesuatu yang bukan tuntutan. Aku menulis ini sebagai percakapan kecil, seperti sedang ngobrol dengan teman lama yang lazimnya mengerti tanpa harus menjelaskan panjang lebar.
Mulai dari napas — sederhana tapi susah
Aku ingat pertama kali mencoba mindfulness: instruktur bilang, “Tarik napas, hembuskan.” Itu terdengar mudah. Namun pikiran melompat — tugas, mantan, suara tetangga, daftar belanja. Kali pertama gagal, aku merasa bodoh. Kali keseratus, napas tak lagi sekadar oksigen. Napas menjadi jangkar. Saat aku sadar napas ini masuk, aku kembali ke tubuh. Saat sadar napas pergi, aku melepas apa yang tidak kupunya kendali atasnya.
Aku kerap melatihnya pagi-pagi, dengan mata setengah terpejam dan kopi hitam menunggu di meja. Lima menit pertama biasanya kacau. Lima menit berikutnya biasanya hadiah. Mindfulness bukan soal menenangkan pikiran setiap saat. Bukan juga tentang menjadi orang yang selalu ‘positif’. Ini soal hadir saat dunia meminta terlalu banyak.
Self-care bukan egois — ini strategi bertahan hidup
Aku pernah merasa bersalah saat memilih tidur siang alih-alih membalas pesan panjang teman. Kenapa tubuhku merasa perlu istirahat dan otakku merasa bersalah? Lambat laun aku belajar membedakan antara tanggung jawab yang sehat dan pengurasan energi. Self-care buatku bisa sesederhana membuka jendela, berjalan ke toko kelontong tanpa tujuan, atau menulis tiga hal kecil yang aku syukuri.
Satu tips praktis: buat ritual kecil yang hanya milikmu. Aku punya ritual: setelah mandi malam, aku menyalakan lampu kecil, duduk, dan menulis satu kalimat tentang hari itu—tanpa komentar berat. Sekali waktu aku baca tulisan dari marisolvillate yang mengingatkanku bahwa merawat diri itu bukan tugas ekstra, melainkan pondasi. Itu mengubah cara aku melihat self-care: dari kemewahan menjadi kebutuhan.
Healing: bukan garis lurus, tapi taman yang tumbuh pelan
Penyembuhan adalah kata yang lebar. Ada hari aku merasa berlari maju; ada hari aku mundur dua langkah. Pernah suatu saat, aku menangis di dapur setelah melihat foto lama. Menangis itu memilukan, tapi setelahnya terasa lega. Tidak semua luka harus diselesaikan sekali duduk. Banyak yang perlu didekati pelan, dengan rasa ingin tahu bukan penghakiman.
Aku belajar memberi waktu untuk proses. Kadang meditasi membawaku pada ingatan yang tak kusangka. Kadang terapi membuatku pusing karena harus membongkar cara berpikir yang menempel sejak kecil. Tapi setiap retakan yang aku rawat membuka celah cahaya. Itu terdengar dramatis, tapi nyata—seperti melihat tanaman di pot yang kering dan perlahan kembali hijau setelah kau siram tepat waktu.
Berkembang secara spiritual — tidak harus mistik, cukup jujur
Pengembangan diri spiritual buatku bukan soal jargon atau ritual rumit. Ini soal mempertanyakan: siapa aku jika bukan peran yang kupakai? Siapa aku bila aku tidak bekerja sepanjang waktu? Kerap aku duduk diam, menanyakan hal-hal kecil yang tampak sepele—kenapa aku takut menolak? Mengapa aku selalu mencari persetujuan? Pertanyaan-pertanyaan itu membimbing, bukan menghukum.
Ada saatnya aku ikut retret, ada saatnya aku cukup membaca buku di pagi hari. Ada juga yang menemukan jalan spiritual lewat musik atau bertani di pot kecil. Pilihannya pribadi. Yang penting adalah kejujuran pada diri sendiri. Jangan paksa bentuk spiritual yang bukan kamu cuma karena terlihat keren di media sosial.
Akhirnya, perjalanan ini tentang kembalinya kita pada hal-hal sederhana: napas, tidur yang cukup, teman yang benar-benar mendengarkan, dan kadang saja membuat kopi untuk diri sendiri tanpa alasan. Tidak semua hari penuh pencerahan. Banyak hari biasa. Namun ketika aku menulis catatan hening ini, aku tahu satu hal: penyembuhan bukan tujuan yang jauh. Ia ada di momen kecil yang kita beri perhatian.
Terima kasih sudah membaca. Kalau kamu mau, ceritakan satu ritual kecilmu yang membantu bertahan. Aku akan senang mendengarnya—seperti teman yang duduk di balkon bersamaku, menunggu teh mendingin.