Di tengah rutinitas yang bikin kepala muter dan perasaan sering “ngadat”, aku menemukan satu praktik sederhana yang selalu balikin tempo: jurnal kecil untuk jiwa penat. Bukan jurnal yang ribet, penuh proyeksi dan target, tapi jurnal yang lembut—tempat curhat, tempat napas, tempat mikir pelan. Tulisan ini bukan manifesto spiritual, cuma undangan kecil untuk merawat diri secara sadar: mindfulness, self-care, dan penyembuhan spiritual dalam format yang ramah.
Mindfulness itu sederhana, serius deh
Mindfulness sering kedengarannya berat, meditasi berjam-jam, atau kata-kata sakral yang bikin grogi. Padahal, mindfulness bisa dimulai dari ngecek napas. Duduklah sebentar. Tutup mata. Tarik napas lewat hidung, rasakan dada dan perut naik turun. Hanya itu. Kalau pikiran kabur? Itu wajar. Tarik lagi napas. Tuliskan apa yang kamu rasakan di jurnal: “hari ini kepala penuh, karena meeting pagi sampai sore”—dan selesai. Menulis bikin pengalaman jadi nyata; kita bukan lagi korban pikiran, kita saksi.
Ngobrol santai soal self-care (bukan cuma spa, lho)
Self-care sering disalahpahami sebagai mewah: spa, salon, liburan. Padahal self-care bisa semurah secangkir kopi hangat dan tidur lebih awal. Ceritanya, waktu aku seminggu kerja lembur, aku memaksa diri untuk tidur 7 jam setiap malam. Nggak glamor, tapi efeknya luar biasa: mood naik, produktivitas juga. Di jurnal, aku catat pola tidur, mood, dan hal kecil yang bikin lega. Kadang cuma catatan “hari ini aku bilang tidak pada tambahan kerja”—dan itu sudah kemenangan.
Penyembuhan spiritual: bukan lari, tapi pulang
Penyembuhan spiritual menurutku soal kembali ke rumah sendiri—bukan rumah fisik, tapi ruang batin yang aman. Ada phase ketika aku merasa jauh dari diri sendiri: sibuk mengikuti ekspektasi orang, lupa suara kecil di dalam. Menulis doa atau afirmasi di jurnal membantu. Contoh sederhana: tulis tiga kata yang ingin kamu kembangkan: “lembut, tegas, bersyukur.” Baca lagi tiap pagi. Lakukan ritual kecil seperti menyalakan lilin, menyiram tanaman, atau berjalan di taman. Hal-hal ini bukan sekadar estetik; mereka menandai komitmenmu untuk hadir.
Praktik harian yang gampang diikuti
Oke, praktik. Gaya santai tapi struktur penting supaya nggak gampang lupa. Berikut yang biasa aku lakukan dan tulis di jurnal:
– Pagi: tiga menit napas, satu kalimat niat untuk hari ini. Contoh: “Hari ini aku pilih sabar.”
– Siang: catat satu hal yang bikin lega—bisa gelas air dingin, pesan lucu dari teman, atau istirahat 10 menit tanpa gadget.
– Malam: tulis tiga hal yang bersyukur dan satu yang pengin disembuhkan. Contoh tulisan malamku: “Bersyukur untuk kopi pagi, telepon dari ibu, dan jalan sore. Ingin belajar memaafkan diri.”
Kalau mau referensi bacaan atau inspirasi visual, aku sering ngumpulin link favorit di satu halaman. Buat yang pengin melangkah lebih jauh, pernah juga nemu tulisan menarik di marisolvillate yang jadi bahan renungan ringan.
Tips biar konsisten (tanpa merasa bersalah)
Yang paling sering jadi batu sandungan itu rasa bersalah ketika nggak nulis. Jadi aturan saya: jika absen beberapa hari, nggak perlu marahin diri. Buka jurnal, tulis saja “abelum nyaman nulis, hari ini mulai lagi.” Kejujuran kecil ini justru membangun kepercayaan diri. Gunakan format bebas: bullet, gambar, stiker, atau coretan. Intinya, jurnal itu untukmu, bukan penilaian orang lain.
Ada saat-saat ketika proses penyembuhan nggak linear. Kadang mundur, kadang maju. Itu wajar. Mindfulness mengajarkan kita untuk menerima fluktuasi itu. Self-care mengajarkan tindakan nyata: istirahat, makan, batas. Penyembuhan spiritual mengajarkan kesabaran dan kerendahan hati: melepaskan yang tak bisa dipegang dan memeluk yang bisa diubah.
Kalau kamu butuh dorongan: mulailah malam ini. Ambil buku kecil atau aplikasi notes, tulis dua baris: “Aku mulai peduli pada diriku.” Itu cukup. Percayalah, tulisan-tulisan kecil itu akan menuntunmu pulang—pulang ke ruang hati yang tenang, meski di luar masih ribet.
Semoga jurnal kecil ini jadi teman yang lembut di hari-hari penatmu. Bukan solusi instan, tapi teman jalan yang sabar. Selamat menulis, dan semoga menemukan sedikit lebih banyak damai di setiap kata.